Happy #unforgotTEN, Gagas!

Dear Gagas..

JADI TAHUN INI KAMU SUDAH 10 TAHUN?

Gambar

Kalo diibaratkan anak kecil, tahun ini Gagas Media sudah menginjak kelas 5 SD. Sudah mulai kelihatan centil-centilnya. Adek bungsuku saja kalah. Dia masih 9 tahun, naik kelas 4 SD. Ya cuma beda setahun sih ya. Jadi saya betul-betul bisa bayanyin gimana “penampakan” Gagas Media kalo iibaratkan manusia. Kurang lebih pasti sama kayak adekku. Makin centil, cerewet dan yang pastinya makin cerdas. Begitu juga Gagas Media, di ulang tahun yang ke-10 ini pastinya kita berharap penerbit kesayangan kita ini makin kece dan populer.
Nah, sehubungan ulang tahun Gagas Media ini, saya punya beberapa #BirthdayWish agar Gagas makin berjaya ke depannya. Kalo harapannya kepanjangan (semacam curhat) tolong dimaklumi ya. Really sorry. Kan ini juga demi kemajuan Gagas Media. Okay, here we go.

  1. Pertahankan image jiwa mudanya.
    Perkenalan saya dan Gagas itu dimulai sekitar tahun 2007. Logo Gagas belum kayak yang sekarang (Huruf ‘g’ doang), logo yang dulu masih ditulis “GAGAS” di bagian samping buku-bukunya. Novel Gagas pertama yang saya beli berjudul Makan tuh Cinta! yang berisi kumpulan cerpen komedi romantis. Sumpah asli kocak bener. Saya gak berenti ketawa sampe cerpen terakhir selesai.  Terus abis baca kumpulan cerpen itu, saya baca novel utuh Chocoluv karya Ninit Yunita. Karena waktu itu (2009) umur saya sama dengan tokoh utamanya (19 tahun), saya sukaaaa sekali novel itu. Berasa membaca kisahmu sendiri. Sejak saat itulah saya jatuh cinta sama Gagas Media dan mulai memburu novel-novel selanjutnya berjudul The Devil Loves Cinnamon karya Ima Marsczha dan Satu Cinta Sejuta Repot karya Moemoe Rizal. Lagi-lagi saya suka. Awalnya novel itu saya pinjem dari temen kampus, tapi karena sejak awal baca sampe halaman terakhir saya suka ide ceritanya, saya beli deh untuk koleksi pribadi. See? Niat banget kan gue. Dari beberapa novel Gagas yang saya baca itu, satu ciri khas yang dijunjung Gagas Media (sepertinya) penerbit ini memang segmen pasarnya kalangan muda. Mulai dari komedi, romance, young adult pun jiwa mudanya melekat sekali. Jadi, sekali lagi tolong pertahankan ciri khas jiwa muda itu karena ini adalah core Gagas Media. Pembeda dari penerbit lain.
  2. Beri label/pembeda untuk setiap genre novel.
    Jujur nih ya, untuk novel-novel terbitan Gagas Media, saya (mungkin sebagian besar pembaca yang lain juga) agak sulit membedakan mana novel untuk seumuran kami. It’s kinda hard to explain. Gini, novel-novel Gagas Media itu semuanya hampir sama, entah itu genre teenlit maupun mainstream romance, mulai dari cover, blurb sampai ketebalan buku. Nah, saya tiap kali ke toko buku, dibingungkan satu hal: ” ini genre-nya sesuai gak ya sama umur gue? Entar nyesel lagi belinya”. FYI, tahun ini saya sudah 23. Nah, beberapa kali saya terkecoh sama novel-novel Gagas yang blurb dan tampilan luarnya kira-kira paslah ya sama bacaan seumuran gue, tapi ternyata genre-nya teenlit. Gak ada yang salah sih umur 23 masih baca teenlit. Tapi untuk gue pribadi, Ya Tuhan, umur gue sudah bukan lagi jamannya baca teenlit dan kehidupan anak-anak sekolahan. Masa-masa itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu. Alhasil, stuck deh.
    Selesai baca kagak, nyesel beli iya.
    Berkali-kali saya kejadian seperti ini. Tertipu sama blurb dan cover. Nah, sekalian saya mewakili adek-adek ABG yang (seharusnya) baca novel sesuai umur mereka. Kan kasian kalo adek-adek ABG 15-21 tahun itu mesti baca genre mainstream yang belum seharusnya mereka baca. Sama halnya mereka menonton tayangan yang diperuntuntukkan bagi kalangan dewasa. Belum sepantasnya. Saya sampe umur 19 masih baca teenlit. Mulai membaca mainstream romance itu umur 21. Jadi sebaiknya, semoga kedepannya Gagas bisa mempertimbangkan memberi label untuk setiap genre novel agar memudahkan pembaca memilih dan memilah jenis bacaan mereka sesuai umur dan selera 🙂
  3. Kurangi typo.
    Hampir semua pembaca Gagas mengeluhkan hal ini. Saya pribadi sih kalo Cuma satu dua kata gak begitu terganggu dengan typo yang ada. Tapi kalo sudah bertebaran dan bahkan merusak tatanan cerita sebuah novel, aduh..itu baru mengganggu kenyamanan membaca.
  4. Hapuskan blurb, ganti dengan sinopsis.
    Awal ‘kenal’ Gagas tuh ya 2007-2009 masih seru karena kalo saya kebingungan milih dari sekian banyak novel yang mau saya beli (atau pinjam), saya bisa mengandalkan synopsis belakang novel. Terus terang itu sangat teramat membantu. Jadi saya bisa memilih yang mana sesuai selera saya dengan membaca sinopsis-nya terlebih dulu. Tapi masuk tahun 2010 hingga sekarang, saya tidak lagi mengandalkan sinopsis karena memang sudah tidak ada. Sekarang itu yang ada malah blurb yang berupa rangkaian kata-kata indah nan membingungkan untuk mewakili isi buku. Tapi bukannya membantu, itu malah banyak yang menjerumuskan pembaca. Seandainya tidak ada Goodreads, entah kepada siapa saya bisa ‘memercayakan’ selera bacaan saya. Dari review-review di Goodreads juga saya tahu belakangan banyak pembaca yang nyesel karena salah beli karena tertipu cover ataupun blurb, katanya. Belajar dari kasus itu, disini saya berharap, sebaiknya kembalikan ke sistem semula, tolong kembalikan sinopsis untuk mewakili isi cerita dari novel-novel Gagas Media.
  5. Perbanyak project novelnya ya.
    Saat ini sudah ada Gagas Duet dan Setiap Tempat Punya Cerita. Kedua project ini sangat menarik buat saya. Masing-masing punya kelebihan pun kekuragan. Terlepas dari itu saya, saya suka kedua project ini dan berharap kedepan semoga Gagas makin dibanjiri project-project kreatif lainnya.
  6. Adakan program magang untuk para mahasiswa.
    Saya tahu sudah banyak vacancy yang dibuka & di-publish pihak Gagas Media untuk para jiwa muda yang tertarik bergabung, jadi sebaiknya untuk ke depannya diadakan juga program magang untuk para mahasiswa apalagi mereka yang tertari di dunia penerbitan (kayak gue) untuk membuka wawasan & membiasakan diri sebelum benar-benat terjun ke dunia kerja.
  7. Perbanyak program talkshow, bedah buku, meet and greet penulis dan editor  di beberapa kota.
    Seperti yang kita semua tahu, Gagas Media hamper tiap bulan bikin semacam talkshow, tapi untuk saat ini (setahu saya) hanya terbatas di daerah Jabodetabek, semoga kedepannya bisa diadakan diluar Jabodetabek, kalau perlu sampai ke Makassar, Medan, Palembang, Pontianak, dan kota besar lainnya biar para pembaca bisa mengenal langsung penulis-penulis Gagas Media.
  8. Percepat proses seleksi naskah yang masuk ke redaksi.
    Saya tahu bagaimana susahnya menyeleksi ribuan naskah yang masuk ke meja redaksi setiap harinya. Harus dibaca satu persatu. Belum lagi naskah yang kacau balau. Sangat melelahkan. Maka dari itu dibutuhkan waktu yang lama bagi redaksi untuk memproses naskah-naskah tersebut. Jadi semoga Gagas tidak jenuh memperoleh kiriman naskah kacau-balau dari para penulis pemula. Namun sekiranya, proses seleksinya dipercepat agar naskah tersebut diberi kejelasan layak terbit atau tidak. Saya yakin redaksi akan mengerahkan para kru untuk setiap naskah yang masuk.
  9. Tingkatkan kualitas.
    bukan berarti sekarang kualitas Gagas Media jelek lho ya, cuma harapannya semoga kedepannya Gagas Media leih bagus kualitas kertasnya, kualitas naskah (khususnya naskah teenlit), kualitas SDM, kualitas pelayanan, kualitas  distribusinya, dll.
  10. Menjadi penerbit terbaik dan terdepan dalam skala nasional.
    Last but not least semoga Gagas Media menjadi pelopor bacaan para muda-mudi di Indonesia yang menelurkan bacaan berkualitas tinggi baik itu fiksi maupun non fiksi sehingga ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga makin sukses dan berjaya di masa yang akan datang dan terus menjadi wadah para jiwa-jiwa muda 🙂

Rasa –rasanya harapan saya ini sudah seperti curhatan yang tidak ada habis-habisnya. Maaf kalau bikin ngos-ngosan bacanya. Ini juga kan demi kemaslahatan umat. *digetok martil senusantara*
Akhir kata saya cuma bisa mau bilang:
“Selamat ulang tahun, Gagas. Terima kasih sudah mengiringi dunia perbukuan Indonesia selama 10 tahun ini. Keep inspiring ya 😉

Cheers,

Dian Mayasari Azis
GagasAddict

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s