Date a girl who reads. Or better yet, date a girl who writes.

Iklan

Thought via Path

sugahpuff:

Me: I unfollowed your Instagram
Him: WHAT ?!
Me: because you don’t seem an active user on my following list.
Him: How could you ?
Me: Why couldn’t I ?
Him: But I’m your boyfriend.
Me: But you don’t update anything.
Him: TECHNICALLY YES. BUT STILL, YOU ARE UNFOLLOWING YOUR BOYFRIEND.
Me: I just hate seeing any unactive account on my list. That’s all. :))
Him: I don’t understand how you could be so logical sometimes.

*well not every women came from Venus I guess*
:))) – Read on Path.

Notasi: Suatu Hari Aku Akan Kembali

image

Penulis: Morra Quatro
Penerbit: Gagas Media
Cetakan Pertama, Mei 2013
Jumlah Halaman: 294 halaman
Rating: ★  ★  ★  

Jauh sebelum membaca Notasi, saya sudah membaca debut Morra Quatro. Novel yang berjudul Forgiven mengisahkan seorang siswa maniak Fisika (yang mana merupakan mata pelajaran yang paling saya benci). Cerita cinta dan persahabatan. Namun saya dikejutkan dengan twist di akhir cerita. Thank you, Miss Morra.

Tapi itu kemudian justru memotivasi saya untuk membaca karya selanjutnya yang berjudul Believe. Kisah yang diangkat adalah sepasang kekasih yang harus menjalani long distance relationshit relationship. Berbeda dengan sebelumnya, kisah ini ditutup dengan happy ending.

Dua pengalaman di atas yang menjadikan nama Morra Quatro semacam jaminan bagi saya. Jaminan bahwa setiap tulisan beliau worth to read.

Selain gaya penuturan ciri khas Morra Quatro yang manis, lembut namun jauh dari kesan menye-menye, genre-nya pun menarik minat saya. Morra Quatro gemar mengusung tema cerita yang anti mainstream. Lucunya, saya yang penggemar contemporary romance, justru kemudian jatuh cinta dengan tulisan Morra Quatro. Hahaha. Aneh, bukan?

Nah, ketika beliau menerbitkan novel ketiganya, dimana kemudian saya tahu judulnya Notasi, saat itu juga saya meniatkan dalam hati, segera setelah novel itu terbit, saya harus memilikinya. No matter what.

Saya bahkan tidak terpikir untuk searching mencari tahu seperti apa novel ketiganya ini. Kisah apa yang diangkat, siapa nama tokoh-tokohnya dan akan seperti apa ending-nya nanti. 

Jadi ketika mulai membaca Notasi, saya sama sekali tidak punya ekspektasi apa-apa. Saya adalah jenis pembaca yang tidak suka membaca review dari sebuah buku. Terlebih buku yang sangat hits. Karena bagi saya, dengan membaca review, saya jadi memiliki mind-set, yang mana itu menjadikan saya seperti kehilangan surprise effect-nya. Bagi saya pribadi, nama Mora Quatro sudah menjadi jaminan mutlak.

Notasi sendiri berkisah tentang jaman reformasi, runtuhnya Orde Baru dan lengsernya Soeharto.

Jaman-jaman sekolah dulu (SMP dan SMA), saya bukan jenis siswa yang gemar dengan mata pelajaran Sejarah, apalagi kalau menyangkut sejarah yang diceritakan sebelum masehi. Kerajaan kuno, sejarah masuknya berbagai agama di Indonesia dan cara menyebarkannya, patung, candi, prasasti.
It was not my thing.
Apalagi ketika pembagian jurusan, saya kemudian ’dimasukkan’ dalam kelas IPA. Menguap sudah memori mengenai sejarah.

Tapi sungguh, Notasi mengubah pandangan saya. Tema sejarah yang diangkat tidak menyurutkan niat saya untuk menuntaskannya. Terlebih ini adalah sejarah besar bagi perjalanan hidup bangsa Indonesia.
*ceila bahasa gue*

Sebagai generasi 90-an saya tentu buta akan peritiwa Reformasi 98. Gila, waktu itu saya masih 8 tahun, kelas 3 SD. Masih unyu-unyu untuk mengerti kemelut negara ini. Kalaupun saya kemudian mengetahui kejadian saat itu, hanya karena setelah kejadian itu, setiap tahun negara kita memperingati tewasnya mahasiswa Trisakti karena demo besar-besaran tahun 1998. That’s all.

Ya Tuhan, hanya secetek itukah pengetahuan saya mengenai peristiwa 1998? Padahal saat itu kakak-kakak kami mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan reformasi, yang mana kami nikmati hingga hari ini. Saya sungguh merasa sangat berdosa.
*lebay deh, May*

Itulah juga yang diangkat oleh novel ini, demo besar-besaran untuk melengserkan kekuasaan Soeharto pada masa itu. Bedanya, Notasi mengambil setting di Jogja. Iya, ada di Jakarta, tapi hanya beberapa, itupun pada saat Nino sedang ‘diasingkan’.

 ♬ ♪ I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
        Each one a line or two. “I’m fine, baby. How are you?”
        I would send them but I know that it’s just not enough
        My words cold were cold and flat
        And you deserve more than that. ♬ ♪

Pada saat ‘pengasingan’ itulah dia beberapa kali mengirim surat untuk Nalia, surat-surat yang justru bikin saya bergumam: “kenapa sih mesti ngirim surat? Gak bisa sekalian nelpon apa? Mana bisa kangennya tersampaikan kalau hanya dengan sepucuk surat?.

♬ ♪ Maybe surrounded by a million people
     I still feel all alone
     I just wanna go home
     I miss you, you know. ♬ ♪

Tapi kemudian saya sadar, akses telepon saat itu tidak secanggih sekarang. Tidak sebebas sekarang. Cinta mereka tumbuh di antara kerusuhan. Kisah cinta yang sungguh manis dan tragis di saat yang bersamaan.

Di dalam surat-suratnya itu Nino menyiratkan betapa rindunya dia pada Nalia dan janjinya bahwa suatu hari kelak, ia akan kembali.

♬ ♪ Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
Let me go home
I’ve had my run. Baby, I’m done
I gotta go home  ♬ ♪

Selain mengangkat tema demonstrasi dan kerusuhan 98, Notasi juga mengangkat tema radio. Iya, radio. Gelombang elekromagnetik yang bisa menghasilkan suara tanpa gambar itu lho. Dibahas juga sejarah berdirinya Swaragama FM.

Yang saya suka dari novel-novel Morra Quatro, beliau tidak hanya menyajikan roman picisan semata. Lebih dari itu, banyak pengetahuan yang kita peroleh. Penokohan yang kuat, didukung dengan setting Jogja dan UGM yang sangat detail, seakan-akan saat membaca novel ini, saya berada di sana (meski pada kenyataannya saya belum pernah ke Jogja apalagi UGM). Kemudian suasana kampus yang sangat dekat dengan mahasiswa. Sangat berhubungan erat dengan bidang akademis.

Saya baru saja wisuda setahun yang lalu. Jadi sewaktu membaca Notasi, masih sangat terasa suasana kampus, kantin, kegiatan organisasi, termasuk pada saat event  karya tulis ilmiah yang diselenggarakan fakultas Nalia. Oh iya, bagian demo juga. Bukan berarti saya pernah ikutan demonstrasi.

Soal penokohan, sepertinya Morra Quatro memiliki selera yang sama dengan saya. Heh? Maksudnya?
Iya, cowok-cowok tinggi, pinter, cakep, pendiam dengan postur tubuh yang menggoda cewek untuk tenggelam di dadanya. Hahaha.
Tokoh ceweknya sendiri, hmm..gimana ya? Kayak cewek pada umumnya. Mungkin tokoh cewek di novel-novel Morra Quatro adalah perwakilan dirinya sendiri. Mungkin ya. Ini cuma mungkin.

Intinya, dengan membaca novel Morra Quatro, banyak pengetahuan yang saya peroleh. Bukan jenis novel yang habis dibaca, ya udah, ditumpuk begitu saja. Terlepas dari cover yang eye catchy, novel-novel karya Morra Quatro, khususnya Notasi, memiliki tempat istimewa di hati dan rak buku saya. Jenis bacaan yang akan saya jaga sepenuh hati agar bisa saya wariskan kepada anak cucu saya kelak. Amin.

*ya ampun, May, pikiran lo kejauhan.*

Terakhir, saya akui, meski agak gengges dengan ending-nya, tapi itu tidak lantas mengecewakan saya akan novel ini. Setelah merenungkan kembali, justru di situlah letak keunikannya. Ending yang realistis.
Highly recommended and it surely deserves ★  ★  ★  ★  ★ from me.

• lyric: Home by Michael Buble