Challenge is accomplished. Hore!

Begitu membuka mata pagi tadi, hal pertama yang kepikiran adalah “ah…hari terakhir Februari.”
Rasanya bulan ini panjang sekali. Selain hari Minggu, tak ada tanggal merah sehari pun. Bosannya minta ampun. Seandainya bulan ini tidak saya isi dengan memenuhi tantangan dari pacar, mungkin saya akan mati kebosanan menunggu habisnya bulan ini.

Ngomong-ngomong soal tantangan, alhamdulillaaaah tantangannya sudah saya selesaikan. Di antara kerjaan yang bikin bosan setengah mampus, saya bisa juga memenuhi tantangan yang tadinya saya pikir akan impossible rasanya mengingat cuma 2 minggu terakhir saya saya punya waktu. Karena weekend pertama saya nunda-nunda, trus weekend kedua saya nikahan sepupu. Jadilah saya mulai membaca pas weekend di minggu ketiga. Sempat ngos-ngosan sih. Baru pertama kalinya saya baca 6 novel dalam sebulan. Dikasih tenggat waktu pula!

Tapi, yang namanya pecinta chicklit, novel-novel kisah cinta kayak gitu mah bukan perkara sulit. Gampanglah ya buat dituntaskan. Hahaha. Jadi, insya Allah weekend besok, saya akan dapat novel baru AleaZalea. Horeee!

Iklan

London: Angel

image

Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 327 halaman
Cetakan Pertama, 2013
Rating: ★  ★  ★  ★  ★

Tidak salah rasanya ketika saya memutuskan untuk menyisakan London sebagai destinasi terakhir dalam seri Setiap Tempat Punya Cerita. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Saya tahu betul, sama seperti novel-novel terdahulunya, Orange dan Memori, saya akan jatuh cinta lagi pada tulisan Windry Ramadhina yang ini. Dan itu terbukti setelah saya menuntaskan London. Jauh melebihi ekspektasi saya malahan.

Saya suka cara bertuturnya yang gelap & sendu, sangat pas mewakili kota London yang muram diselimuti hujan gerimis. Saya suka dibawa ‘keliling’ London.  Sungai Thames, The Piper, London Eye, Tate Modern, Fitzroy Tavern, dan masih banyak lagi.

Sejujurnya semakin membuka halaman London, saya semakin dibuat kebingungan akan dibawa kemana ceritanya. Akan seperti apa kisah ini berakhir nantinya. Ide cerita ‘sahabat yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri’ sudah sangat teramat basi. Namun, seperti biasa, Windry Ramadhina selalu sukses mengemas sesuatu yang  basi menjadi ‘segar’ kembali. Saya suka eksekusi yang ia pilih untuk Gilang dalam novel ini. Saya menyukai perasaan saya ketika menyelesaikan novel ini. Hangat. Lega. Bahagia. Bercampur aduk. Intinya, saya selalu suka apapun yang ditulis Windry Ramadhina.

Pertanyaan kenapa saya bermurah hati memberi ★  ★  ★  ★  ★ untuk novel ini akan terjawab setelah membaca sendiri novelnya dan merasakan sensasi yang diciptakan Windry Ramadhina. 😛

“Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.”

Oke, sebelum mengakhiri perjalanan berkeliling dunia melalui seri Setiap Tempat Punya Cerita, saya cuma bisa berdoa semoga kelak Tuhan memberi saya umur yang panjang dan rezeki melimpah biar bisa mengunjungi kota demi kota yang telah saya baca sebulan ini. Dan semoga harapan untuk berkeliling di kota-kota tersebut bisa terwujud bersama pasangan saya kelak. Aamiin. 🙂

Tokyo: Falling

image

Penulis: Sefryana Khairil
Penerbit: Gagas Media
Cetakan Pertama, 2013
Tebal: 337 halaman
Rating: ★  ★  ★

Tokyo selalu menjadi kota impian saya. Kota impian kedua setelah New York. Saya selalu membayangkan suatu hari di musim dingin dengan berbalut rain coat, sarung tangan dan sepatu boots saya berjalan di bawah salju merasakan hawa dingin yang masuk hingga tulang-tulang. Naik kereta bawah tanah dan berbaur dengan hiruk pikuk kota Tokyo. Saya menyukai masyarakatnya yang padat dan ramai namun tetap tertib dan ramah. Semoga kelak Tuhan mewujudkan impian saya menginjakkan kaki di kedua kota impian saya itu. Aamiin.

Ini adalah sekian kalinya saya membaca novel dengan setting kota Tokyo. Dan semakin saya baca, semakin saya bermimpi untuk mendatangi negeri Sakura. Oke, silahkan tertawakan imajinasi saya.

Berbeda dengan buku Sefryana Khairil sebelumnya, Tokyo memiliki alur yang mudah ditebak di awal cerita. Kisah cinta klasik dua orang asing yang tak sengaja bertemu kemuadian jatuh cinta di negara asing pula. Namun demikian saya suka pertemuan pertama kedua tokoh utama ini. Dan saya berterima kasih pada Sefryana Khairil untuk penjelasannya yang begitu rinci mengenai berbagai tempat di Tokyo. Berjalan-jalan di sekitar Odaiba, hotel tempat Thalia menginap. Festival Tanabata, Gojunoto, Kuil Sensoji, Gunung Fuji, Rainbow Bridge,  dan pastinya Tokyo Sky Tree yang belakangan jadi icon Negara Jepang.

Terlepas dari semua tempat yang dikunjungi Tora dan Thalia dalam novel ini, saya suka chemistry yang dibangun antara kedua tokoh utama ini. Saya suka karakter Tora yang cuek tapi sebenarnya peduli. Saya juga suka Thalia manis tapi ceroboh. Untuk ending sendiri, penulisnya  memilih  menggunakan open ending jadi terserah pembaca mau mereka-reka seperti apa.

“Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri.”

Saya memberi  ★  ★  ★ untuk Tokyo karena saya menikamati ‘berkeliling’ Tokyo bersama Tora dan Thalia, sayangnya saya kurang menikmati ide ceritanya yang—errr menurut saya, berkesan sinetron.

Paris: Aline

image

Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Cetakan pertama, 2012
Tebal: 224 Halaman
Rating: ★  ★  ★ 

Benarlah adanya orang-orang yang menjuluki Paris sebagai kota paling romantis sedunia. Saya setuju dengan mereka. Dari sekian banyak buku yang mengambil setting kota Paris, hampir semuanya berakhir indah. Entah itu novel teenlit bahkan sampai novel dewasa.

Saya sendiri gak pernah nyangka akan se-exited ini setelah baca Paris, padahal saya ingat betul awalnya  saya sempat ogah-ogahan ketika membuka novelnya dan sempat malas-malasan memulainya. Karena waktu itu saya mikir, setting kota Paris rasanya sudah sangat pasaran. Begitu banyak penulis yang menggunakannya, pasti inti cerita akan sama pada akhirnya.

Namun saya keliru. Begitu masuk ke prolog, saya seperti disihir. Saya suka ide cerita yang digunakan Prisca Primasari. Unik dan bisa dibilang— aneh. Namun justru itulah kelebihan novel ini. Karakter si tokoh cewek, Aline, sangat membumi. Kita bisa menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam dirimu sendiri. Hal lain yang menjadi daya tarik novel ini karena dialog tokoh-tokohnya yang begitu renyah. Penjelasan mengenai kota Paris yang begitu detail dan bumbu ceritanya yang begitu pas. Jangan tanyakan ending-nya seperti apa. Karena itu adalah salah satu bagian favorit saya.

“Ada beberapa hal yang sangat layak untuk dinanti, ketika aku percaya sepenuh hati bahwa semua itu takkan berbuah sia-sia”

Well, ketika menyelesaikan kisahnya, saya sebenarnya gak rela menutup novel ini. Rasanya petualangan ke Paris bersama Aline belum cukup. Belum puas. Kurang tebal. Saya masih ingin membuka halaman demi halaman. Masih ingin berlama-lama dengan Aline dan Sena. Masih ingin menikmati kebersamaan mereka berdua. Paris sendiri saya kasih ★  ★  ★    karena sukses bikin saya senyum-senyum sendiri setelah menutup novelnya.

Roma: Con Amore

image

Penulis : Robin Wijaya
Penerbit : Gagas Media
Cetakan Pertama, 2013
Tebal : 384 Halaman
Rating: ★  

Mungkin benar bahwa efek sebuah novel itu sangat berpengaruh ketika ingin menulis review. Karena saya tidak begitu klik dengan Roma, maka rasanya saya bingung harus menulis review seperti apa sehingga tidak terkesan menjelekkan.

Saya percaya setiap genre novel ada peminatnya masing-masing. Namun meskipun saya berulang kali meyakinkan diri, berulang kali pula saya mengoceh sendiri setiap kali selesai membaca novel yang bukan selera saya. Saya merasa rugi. Mungkin rasanya seperti pacaran bertahun-tahun, investasi waktu, tenaga dan perasaan, eh…tahu-tahu pada akhirnya harus berpisah di ujung jalan karena berbeda arah. Buang-buang waktu, bukan?
Ini analogi macam apa?

Percaya atau tidak, saya merasa seperti itu setelah menyelesaikan Roma yang notabene-nya adalah novel genre amore dengan kisah cinta mendayu-dayu dan happily ever after. Sayangnya novel jenis ini tidak termasuk dalam daftar genre kesukaan saya. Belum lagi dialog yang kaku dan minim konflik. Rasanya sangat flat.

Bagaimana aku mendefinisikan perasaan gembira adalah ketika nama & suaramu menjadi candu yang mencumbu telinga.

Ini pertama kalinya saya membaca tulisan Robin Wijaya. And it was nice one. Untuk ukuran novel yang ditulis oleh penulis laki-laki, Roma tergolong feminin. Sangat jauh dari kesan maskulin. Cuma ya itu, kalo dianalogikan sebagai makanan, Roma rasanya hambar di lidah saya. Mungkin sebaiknya saya membaca tulisannya yang lain sebelum ngasih komen lebih jauh. Jadi, sorry to say, saya cuma bisa kasih ★ untuk penjelasannya tentang dunia melukis dan ★ lagi karena sudah dibawa ‘keliling’ Roma.

Bangkok: The Journal

image

Penulis: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media
Cetakan pertama, 2013
Tebal : 436 Halaman
Rating: ★  ★  ★  ★
Setelah jatuh cinta sama novelnya yang Satu Cinta Sejuta Repot dan Fly to the Sky, Moemoe Rizal menjadi salah satu penulis yang selalu saya tunggu karya-karyanya. Satu hal yang saya suka dari tulisan Moemoe Rizal sekaligus menjadi ciri khas-nya dalam menulis adalah kekuatan karakter tokohnya. Dia bisa mengeksplorasi tiap tokoh menjadi sangat kuat seakan-akan mereka itu hidup dan nyata. Belum lagi jokes yang gokil gila. Dialog yang kocak dan plot yang rapi jali. Keren pokoknya.

Novelnya kali ini mengisahkan kakak beradik yang harus berpetualang di kota Bangkok demi mencari warisan dari sang ibunda. Dan warisan tersebut dalam bentuk jurnal-jurnal yang ditulis di dalam kalender 1980. For God’s sake, ini tahun 2014 dan mereka disuruh mengubek tempat antah berantah untuk mencari jurnal yang belum jelas keberadaannya. Gila nggak tuh?

Tapi bukan Moemoe Rizal namanya kalau tidak bikin surprise dalam setiap tulisannya. Pasti ada-ada saja yang bikin kita jadi pang-ling, ngakak bahkan sampe nangis. Iya, saya nangis, pemirsa. Ada satu bab di dalam Bangkok yang bikin saya nangis karena terus-terusan membahas tentang Ibu. Bikin saya kangen sama ibuku, dong. Saya juga tinggal jauh dari ibuku dan membaca ini bikin saya mewek sendiri di dalam kamar di tengah malam tanpa bahu untuk bersandar. *tsah*

Kalo ditanya apa kekurangan dari Bangkok ini, saya cuma mau complain kebersamaan antara Charm dan Edvan kok ya segitu doang? I want moreee!
Tambah adegan apapun kek di antara mereka berdua biar lebih mesra gituuuu. *digeplak*
Terus ada beberapa kalimat dalam bahasa Thai yang tidak diterjemahkan. Saya ndak ngerti, woi!

Well, sebelum menyudahi review kagak penting ini, saya dengan rendah hati merekomendasikan novel ini. Dan  saya jamin kalian tidak akan menyesal membaca Bangkok, malah saya taruhan, besok-besok, kalian pasti akan baca ulang. Oh iya, berkat novel ini sedikit banyak saya jadi tahu bagaimana budaya di Thailand sana. Agak ngeri sih. Weird, but true. Like he said:

Kau tak perlu membenarkan. Terima saja fakta bahwa mereka ada.

Maka dari itu, dengan mantap saya ngasih ★  ★  ★  ★  untuk novel kece ini.

Melbourne: Rewind

image

Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan pertama, 2013
Tebal: 328 halaman
Rating: ★  ★  ★  ★

Sejujurnya, saya bukan penggemar tulisan Winna Efendi. Sebelum membaca Melbourne, jauh sebelumnya saya sudah lebih dulu membaca karya-karyanya yang lain; Unbelievable, Refrain, Ai dan Remember When. Tapi tak satupun dari itu semua yang membuat saya terkesan kemudian mengidolakan penulisnya. Namun ketika saya mengetahui bahwa Melbourne adalah salah satu seri project Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) ditulis oleh Winna Efendi, saya dilema. Di satu sisi, saya sudah meniatkan untuk mengoleksi & membaca lengkap semua novelnya. Di sisi lain, saya semacam trauma dengan tulisan Winna Efendi sebelumnya. Maklum, beberapakali saya dikecewakan.

Setelah kebingungan mau baca dari seri STPC yang mana, saya memutuskan untuk membaca dengan mode shuffle, toh serinya tidak berkaitan satu sama lain. Dan entah kenapa hati saya memilih Melbourne sebagai destinasi pertama.

Ada 2 indikator ketika saya begitu menyukai dan menikmati sebuah novel.
Pertama, saya akan menenteng novelnya kemana-mana dan hanya akan menutup novel ketika saya ke kamar mandi. Kedua, saya akan bela-belain begadang meskipun besoknya saya akan terkantuk-kantuk di kantor. Berhubung di siang harinya saya harus membanting tulang demi mencari nafkah untuk memenuhi kegilaan saya terhadap novel, maka saya harus rela membaca di malam hari setelah pekerjaan kantor yang sangat teramat membosankan itu selesai.

Ketika mulai membaca Melbourne, saya tidak punya ekspektasi apa-apa mengingat sebelumnya saya dikecewakan dengan novel Winna Efendi yang lain. Jadi yah, apapun hasilnya nanti dan gimanapun kisahnya di dalamnya, toh saya tidak menaruh harapan terlalu besar.

Dan ternyata, di luar ekspektasi saya, membaca Melbourne membuat saya ketagihan. Saya ketagihan dengan cara bertuturnya yang lembut dan menghanyutkan. Saya rela membaca novelnya di malam hari sampai saya jatuh tertidur karena saya begitu larut dalam kilas balik kisah Max dan Laura. Ikut dalam kesedihan dan kebahagian mereka yang terpisah sekian lama. Ikut merasakan chemistry antara mereka berdua yang sangat kuat. Saya sampai tidak percaya bahwa ini tulisan Winna Efendi. Karena sebelumnya, menurut saya, belum ada tulisannya yang sekeren ini.

Cinta sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin hanya mengendap di dasar hati, hingga waktu membuatnya kentara kembali.”

Saya tidak akan spoiler seperti apa isinya. Just find by yourself. Intinya, novel ini sangat manis dan layak mendapat ★  ★  ★  ★ bintang dari saya. Highly recommended!