Bangkok: The Journal

image

Penulis: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media
Cetakan pertama, 2013
Tebal : 436 Halaman
Rating: ★  ★  ★  ★
Setelah jatuh cinta sama novelnya yang Satu Cinta Sejuta Repot dan Fly to the Sky, Moemoe Rizal menjadi salah satu penulis yang selalu saya tunggu karya-karyanya. Satu hal yang saya suka dari tulisan Moemoe Rizal sekaligus menjadi ciri khas-nya dalam menulis adalah kekuatan karakter tokohnya. Dia bisa mengeksplorasi tiap tokoh menjadi sangat kuat seakan-akan mereka itu hidup dan nyata. Belum lagi jokes yang gokil gila. Dialog yang kocak dan plot yang rapi jali. Keren pokoknya.

Novelnya kali ini mengisahkan kakak beradik yang harus berpetualang di kota Bangkok demi mencari warisan dari sang ibunda. Dan warisan tersebut dalam bentuk jurnal-jurnal yang ditulis di dalam kalender 1980. For God’s sake, ini tahun 2014 dan mereka disuruh mengubek tempat antah berantah untuk mencari jurnal yang belum jelas keberadaannya. Gila nggak tuh?

Tapi bukan Moemoe Rizal namanya kalau tidak bikin surprise dalam setiap tulisannya. Pasti ada-ada saja yang bikin kita jadi pang-ling, ngakak bahkan sampe nangis. Iya, saya nangis, pemirsa. Ada satu bab di dalam Bangkok yang bikin saya nangis karena terus-terusan membahas tentang Ibu. Bikin saya kangen sama ibuku, dong. Saya juga tinggal jauh dari ibuku dan membaca ini bikin saya mewek sendiri di dalam kamar di tengah malam tanpa bahu untuk bersandar. *tsah*

Kalo ditanya apa kekurangan dari Bangkok ini, saya cuma mau complain kebersamaan antara Charm dan Edvan kok ya segitu doang? I want moreee!
Tambah adegan apapun kek di antara mereka berdua biar lebih mesra gituuuu. *digeplak*
Terus ada beberapa kalimat dalam bahasa Thai yang tidak diterjemahkan. Saya ndak ngerti, woi!

Well, sebelum menyudahi review kagak penting ini, saya dengan rendah hati merekomendasikan novel ini. Dan  saya jamin kalian tidak akan menyesal membaca Bangkok, malah saya taruhan, besok-besok, kalian pasti akan baca ulang. Oh iya, berkat novel ini sedikit banyak saya jadi tahu bagaimana budaya di Thailand sana. Agak ngeri sih. Weird, but true. Like he said:

Kau tak perlu membenarkan. Terima saja fakta bahwa mereka ada.

Maka dari itu, dengan mantap saya ngasih ★  ★  ★  ★  untuk novel kece ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s