-Singin’ in the rain-

Iklan

New muse on March

Kalo mau merunut postingan saya kemarin, seharusnya hari ini saya sudah memegang novel Dirty Little Secret – AleaZalea, tapi karena di dunia ini tak ada yang pasti, maka keinginanku harus tertunda dulu. Manusia boleh berencana, berangan-angan sampe bermimpi, namun pada akhirnya keadaan lah yang menentukan. Jadi karena sesuatu & lain hal, kali ini saya belum dapetin novel inceranku, tapiiiii sebagai gantinya, si pacar ngasih saya parfum baru yang wanginya bikin cowok-cowok pada bertekuk lutut. Hahahhaha.

image

Kencan yang manis.
Bulan baru yang manis.
Semoga manis hingga penghujung. 😀

Challenge is accomplished. Hore!

Begitu membuka mata pagi tadi, hal pertama yang kepikiran adalah “ah…hari terakhir Februari.”
Rasanya bulan ini panjang sekali. Selain hari Minggu, tak ada tanggal merah sehari pun. Bosannya minta ampun. Seandainya bulan ini tidak saya isi dengan memenuhi tantangan dari pacar, mungkin saya akan mati kebosanan menunggu habisnya bulan ini.

Ngomong-ngomong soal tantangan, alhamdulillaaaah tantangannya sudah saya selesaikan. Di antara kerjaan yang bikin bosan setengah mampus, saya bisa juga memenuhi tantangan yang tadinya saya pikir akan impossible rasanya mengingat cuma 2 minggu terakhir saya saya punya waktu. Karena weekend pertama saya nunda-nunda, trus weekend kedua saya nikahan sepupu. Jadilah saya mulai membaca pas weekend di minggu ketiga. Sempat ngos-ngosan sih. Baru pertama kalinya saya baca 6 novel dalam sebulan. Dikasih tenggat waktu pula!

Tapi, yang namanya pecinta chicklit, novel-novel kisah cinta kayak gitu mah bukan perkara sulit. Gampanglah ya buat dituntaskan. Hahaha. Jadi, insya Allah weekend besok, saya akan dapat novel baru AleaZalea. Horeee!

London: Angel

image

Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 327 halaman
Cetakan Pertama, 2013
Rating: ★  ★  ★  ★  ★

Tidak salah rasanya ketika saya memutuskan untuk menyisakan London sebagai destinasi terakhir dalam seri Setiap Tempat Punya Cerita. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Saya tahu betul, sama seperti novel-novel terdahulunya, Orange dan Memori, saya akan jatuh cinta lagi pada tulisan Windry Ramadhina yang ini. Dan itu terbukti setelah saya menuntaskan London. Jauh melebihi ekspektasi saya malahan.

Saya suka cara bertuturnya yang gelap & sendu, sangat pas mewakili kota London yang muram diselimuti hujan gerimis. Saya suka dibawa ‘keliling’ London.  Sungai Thames, The Piper, London Eye, Tate Modern, Fitzroy Tavern, dan masih banyak lagi.

Sejujurnya semakin membuka halaman London, saya semakin dibuat kebingungan akan dibawa kemana ceritanya. Akan seperti apa kisah ini berakhir nantinya. Ide cerita ‘sahabat yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri’ sudah sangat teramat basi. Namun, seperti biasa, Windry Ramadhina selalu sukses mengemas sesuatu yang  basi menjadi ‘segar’ kembali. Saya suka eksekusi yang ia pilih untuk Gilang dalam novel ini. Saya menyukai perasaan saya ketika menyelesaikan novel ini. Hangat. Lega. Bahagia. Bercampur aduk. Intinya, saya selalu suka apapun yang ditulis Windry Ramadhina.

Pertanyaan kenapa saya bermurah hati memberi ★  ★  ★  ★  ★ untuk novel ini akan terjawab setelah membaca sendiri novelnya dan merasakan sensasi yang diciptakan Windry Ramadhina. 😛

“Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.”

Oke, sebelum mengakhiri perjalanan berkeliling dunia melalui seri Setiap Tempat Punya Cerita, saya cuma bisa berdoa semoga kelak Tuhan memberi saya umur yang panjang dan rezeki melimpah biar bisa mengunjungi kota demi kota yang telah saya baca sebulan ini. Dan semoga harapan untuk berkeliling di kota-kota tersebut bisa terwujud bersama pasangan saya kelak. Aamiin. 🙂